Tampilkan postingan dengan label Tentang Orang Tua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Orang Tua. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Mei 2014

Penyesalan

Rabu, 7 Mei 2014

Jam menunjukkan pukul 6 pagi. 
Saya : kauleh belieh kol 8 marenah ma (saya mau balek jam 8 sebentar lagi ma)
Mama : nyambieh apah ke ponduk cong ? (mau bawa apa ke podok nak ?)
Saya : bunten tak usa pon ma, beh nyambih nasi 2 bungkus beih pon, jek nyak-benyak ma, tas berek senyambieh (jangan dah ma, beh bawa nasi 2 bungkus saja sudah cukup ma, jangan banyak-banyak karena tas berat yang mau bawa)
Mama : iyelah cong (iyadah nak)

Saya makan di rumah mama. Setelah itu saya pulang dari rumah mama menuju rumah sendiri, kemudian mandi dan sholat dhuha, bersiap-siap untuk kembali ke pondok. Usai siap-siap langsung menuju rumah mama.

Saya : nyambieh senapah nasi ma ? (mau bawa berapa nasi ma ?)
Mama : nyambih 4 bungkos ya lah cong (bawa 4 bungkus dah nak)
Saya : beh, nyambih 2 bungkos beih pon ma, tas berek pas senyambieh (bawa 2 bungkus saja ma karena tas berat yang mau bawa)
Mama : dinalah cong, begi kancanah neser. Masak eberi’ah neng sekonek, engkok kare gebei nasi benyak (biar dah nak, kasih sama temene kasian. Masak mau di kasih sedikit. Mama ini sudah nanak nasi yang banyak)
Saya : kauleh gellek pon ngebele nyambih 2 bungkus (saya tadi sudah bilang suruh bawa 2 bungkus saja) sambil agar merengut dan kesal
Mama : mon dekyeh tak usa minta’an pole lah, engkok lah kare gebei ya cong, neser kancanah (kalau gitu jangan minta lagi wes kalu mau balik, saya sudah buat banyak nak, kasian temen-temennya)

Saya hanya bisa terdiam tanpa memperdebatkan lagi (meski agak sedikit jengkel), saya kemudian berpikir bahwa niat mama itu sangat baik. Beliau itu kasian sama temen-temen dan hal itu menunjukkan rasa sayang beliau kepada anaknya dan teman-temannya. Tak seperti biasanya ini saya lakukan kepada mama. Biasanya sebelum balik ke pondok saya selalu membasuh kedua kaki beliau kemudian saya minum air basuhan kaki beliau tersebut. Tapi hari ini tidak saya lakukan karena ini menunjukkan rasa ego yang berlebihan. Sudah beres-beres nasi kemudian saya minta maaf (seporanah sebenyak ma), salim kemudian cium pipi kanan-kiri mama. Meski saya sudah bilang uangnya masih ada, tapi beliau masih memberikan uang yang berada di saku beliau. Sekali lagi ini menunjukkan rasa cinta seorang ibu kepada anaknya. Kemudian ayah mengantarkan saya menuju semampir untuk naik bis ke tanjung.

Mungkin dalam hati beliau bertanya-tanya, tak seperti biasanya Hendra langsung pamitan. Biasanya Hendra minta basuh kaki sebelum balek ke pondok tapi kali ini kok tidak ? selama dalam perjalanan saya terus berpikir, mama itu udah punya niatan baik, capek-capek nanak nasi tapi saya malah bersikap seperti itu. Tidak menyucapkan terima kasih ke beliau. Sungguh ini menjadi penyesalan bagi saya karena bersikap seperti ini.

Mama. . . .

Mama. . . .
Mama, tiada henti memberiku semangat
Semenjak aku berada dalam kandungan
Disaat hati dan jiwa ini sering mengeluh karena tidak telaten menyepelekan nasehatmu
Tapi engkau slalu dengan sabar dan terus memberiku nasehat
Betapa banyak dan berarti yang engkau beri
Siang dan malam Engkau menyusui
Tiada merasa lelah dan letih
Kasih sayangnya, cinta kasihnya tak terbalas emas permata
Pernah suatu malam aku terbangun dari tidur lelapku
Kemudian aku ketuk pintu kamar mama
Mendengar aku menjerit-jetit memanggil namanya
Mama terbangun, membuka pintu kamarnya seraya bertanya “ada apa ?”
Aku dudukkan mama di sebuah kursi
Aku bersimpuh di pangkuannya
Aku menangis meminta maaf atas sgala kesalahanku
Kemudian aku minta do’a seraya mama meneteskan air matanya
Setiap aku pulang, aku basuh kedua kaki mama dengan air
Dengan rasa berat hati beliau sepertinya ingin meneteskan air mata
Kemudian aku minum air itu sebagai bentuk rasa hormat dan cintaku pada mama
Semoga kita slalu membawa nama mama di dalam setiap bermunajat kepada-Nya
Mama, terima kasih :-)

Walidaini Ihsana


                Selama berada di Pondok Pesantren Nurul Jadid, saya selalu ingat tentang masa lalu terutama tentang kedua orang tua, karena yang saya paling kangenin adalah mama. Kalau ayah ngirim satu bulan satu kali ke pondok tapi kalau mama tidak ikut serta, pasti ada rasa kesedihan tersendiri di dalam hati karena beliau orang yang melahirkan, merawat, memberikan kasih sayang kepada dengan penuh rasa tuls ikhlas dan tak pernah beliau mengeluh. Malah saya bersyukur ketika di marahi oleh kedua orang tua, itu menandakan mereka sayang kepada anaknya.
                Saya masih ingat ketika dulu saya sangat nakal, suka membentak, ingat ketika saya sakit dirawat oleh mama, ketika masih sekolah mama nganterin saya ke sekolah tiap hari (di kasih uang saku Rp.300 + 2 permen, hehe). Begitu besarnya kasih sayang kedua orang tua kepada anaknya sehingga mereka rela berkorban dalam segala hal demi kebaikan sang anak. Saya masih teringat ketika ayah bilang “be’en cong teka’ah majer pesse sebenya’en gunong tak kerah bisah meles kebaikanah reng tuah, terutama mamanah be’en senglaeragi, rejeh sarah pengorbanannah reng tuah riah cong, reng tuah riah gun nyangkolanah elmoh ke anak, makle ana’en odi’en lebih baik deri pada reng tuanah”
                Memang saya itu kalau masalah berbagi cerita, pengalaman dan nasehat lebih dekat dengan ayah, tapi kalau masalah batin ya pasti mama yang lebih dekat. Saya juga ingat ketika saya dipukul sama mama karena main terus, jarang belajar, sering mandi di sungai waktu banjir, ngebantah, acuh tak acuh dll dah pokoknya. Saya banyak dosa kepada kedua orang tua. Saya juga teringat ketika mereka mendidik waktu kecil. Belajar berjalan, menulis, membaca dan lain-lain. Saya teringat dengan lirik lagu rhoma irama :
Bila kau patuh pada rajamu, lebih patuhlah pada ibumu
Bila kau sayang pada kekasih, lebih sayanglah pada ibumu
                Tapi anehnya ketika saya mondok, saya kangen sekali dimarahi dan dipukul oleh kedua orang tua apa lagi mama. Saya berpikir “kenapa ketika saya sudah besar tidak pernah dipukul lagi ?” padahal saya kangen dengan hal itu. Apa karena mereka sudah tidak sayang kepada saya sehingga mereka jarang memarahi saya ? Saya masih ingat ketika disuruh-suruh oleh kedua orang tua saya selalu acuh tak acuh dan bahkan malas atau membentak kepada kedua orang tua. Ketika saya baca surah Al-Isra’ ayat 23 yang artinya :
                dan tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan berbuat baiklah kepada ibu-bapakmu. Jika salah seorang diantara keduanya atau bahkan keduanya sampai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.
                Dari ayat diatas sudah dijelaskan secara jelas dalam Al-Qur’an, jangankan membentak kepada kedua orang tua. Berkata “ah” saja sudah dilarang apalagi sampai lebih dar itu. Saya banyak sekali dosa kepada kedua orang tua karena selalu membentak dll. Dan kemudian lanjutan dari surah Al-Isra’ ayat 23 yaitu ayat 24 yang artinya :
                Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih saying dan ucapkanlah “wahai tuhanku ! sayangilah keduanya sebagai mana mereka berdua mendidik kamiaku pada waktu kecil”
Ya Allah ijinkanlah kami membahagiakan kedua orang tua
Jadikanlah kami pribadi yang bisa berbakti (mebunga, mecelep) hati kedua orang tua
Lindungi dan sayangilah mereka berdua Ya Allah, Amin.

Sabtu, 28 April 2012

Kasih sayang orang tua


<$2Fw:lsdexception>
Jum’at yang mengharukan

Jum’at 13 April 2012, setelah selesai sholat jum’at saya mendengarkan music di kamarnya teman. Tiba-tiba teman ngajak ke kamar tapi saya agak sungkan yang mau ke kamar karena saya sudah duduk enak di tempat, saya tiba-tiba ingat kata-kata “kita harus mementingkan kepentingan orang lain” ya saya ke kamar saya bareng teman saya dan ternyata di depan kamar ada mama sama ayah yang pergi ke pondok untuk melihat keadaan saya. Orang tua saya kebingungan karena saya tidak ada di kamar waktu itu dan Alhamdulillah berkat teman yang mengajak pergi ke kamar akhirnya saya bisa bertemu dengan orang tua saya.
Pada hari itu saya terharu karena mama untuk pertama kali mengirim saya ke pondok. Saya kangen sekali sama orang tua saya karena tidak bertemu dan ketika bertemu saya ingin lebih sopan dari pada dulu waktu masih belum mondok. Saya ingat ketika saya banyak menyusahkan orang tua, pernah melawan, pernah minta sepeda dan pokoknya ingat semua dosa-dosa saya sama orang tua. Saya tidak tau terima kasih karena mereka telah merawat saya sejak dalam kandungan hingga dewasa kini. Saya juga teringat waktu SMA setiap berangkat sekolah saya pasti cium pipi kanan-kiri mama dan ketika orang tua datang ke pondok saya minta maaf dan saya serasa mau keluar air mata (cowok gpp cengeng). Betapa banyak pengorbanan orang tua ketika hamil apalagi ketika mama melahirkan.
Setalah kami agak lama ngobrol menanyakan tentang keadaan rumah akhirnya ayah dan mama ingin pamitan untuk pulang. Ketika ayah bilang mau pulang hati saya mau menangis karena saya akan berpisah dengan orang tua, apalagi mama kayaknya mau ngluarin air matanya. Setah itu saya kembali meminta ma’af dan memohon do’a barokah dari kedua orang tua, tak lupa saya cium pipi kanan-kiri mama. Seketika itu saya melihat sedikit air mata yang menghiasi pipi mama, dan orang tua pun pamit untuk pulang seraya senyum dan saya pun membalas senyum mereka. Terima kasih ya Allah telah memberi nikmat yang tak terhingga bagi kami dan semoga saya bisa membahagiakan kedua orang tua. Amin.

Rindu dan Cinta

Rindu dan cinta bak dua hal yang tak bisa dipisahkan. Ibu telah menunjukkan cinta kasihnya sejak ada dalam kandungan hingga dewasa. Kasih sayang yang diberikannya tidak pernah lekang oleh waktu. Pengorbanan cinta kasih yang dicurahkan seorang ibu kepada anaknya tidak akan pernah bisa terbalas. Kebersamaan dengan orang tua adalah masa-masa yang membahagiakan, meskipun sesekali ada konflik kecil namun itu semua hanyalah bumbu yang menambah cita rasa kehidupan. Cinta kasih yang terpancar dari sosok ibu mencerminkan sebuah tanggung jawab bahwa setiap manusia harus saling mencintai.
Lantas, dengan cara bagaimanakah harus membalas cinta dan kasih sayang yang diberikan orang tua ? Sebuah pertanyaan yang sulit dan njlimet untuk dijawab. Namun, ketulusan dan keihklasan cinta orang tua tidak mengharapkan balasan. Orang tua hanya ingin melihat, mendengar dan merasakan bahwa anaknya berhasil meraih ilmu yang diridhoi oleh Allah. Betapa sangat bahagia dan bangganya bila orang tua melihat anak-anaknya berhasil dan sukses. Orang tua akan tersenyum bahagia dan bersyukur pada-Nya. Sebagai seorang anak, saya sangat merasakan kasih sayang yang diberikan orang tua sampai-sampai saya tidak mampu menyebutkan satu per satu apa saja yang diberikan olehnya mulai saat saya berada dalam kandungan hinga besar seperti sekarang ini.
Apa yang dikerjakan kedua orang tua tidak hanya menjadi teladan bagi saya saja, namun akan menjadi teladan lintas generasi nantinya. Prestasi dan kerja keras yang ditunjukkan oleh orang tua semestinya menginspirasiku dan pasanganku nanti dalam mendidik anan-anak kami. Secara pribadi, saya akan selalu mendo’akan kedua orang tua semoga selalu diberikan kesehatan, hidup yang barokah dan selalu bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah.